Korupsi Batu Bara Rugikan Rp5 Triliun & Picu Blackout: Mantan Penyidik KPK Desak Tangkap Aktor Intelektual Dalang Sebenarnya
JAKARTA – Skandal dugaan korupsi suplai batu bara ke sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang merugikan negara hingga Rp5 triliun tak sekadar melukai kas negara, melainkan telah mencelakai jutaan rakyat lewat insiden pemadaman listrik massal (blackout) di wilayah Jawa dan Sumatera.
Mantan Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Yudi Purnomo Harahap, menyoroti serius kasus yang kini sedang digarap Korps Tindak Pidana Khusus (Kortastipidkor) Polri ini. Ia menegaskan, penyimpangan yang terjadi secara serentak di berbagai lokasi tidak mungkin berjalan tanpa arahan—ada aktor intelektual yang mengatur skema ini dari balik layar.
"Pola kerusakannya masif, menyebar ke banyak PLTU. Ini bukan kesalahan teknis biasa, bukan pula sekadar ulah petugas lapangan. Pasti ada dalang cerdik yang menyusun strategi agar uang negara mengalir ke kantong pribadi, tak peduli listrik mati, ekonomi rakyat lumpuh, dan usaha gulung tikar," tegas Yudi, yang pernah memimpin penanganan kasus besar Bank Century dan E-KTP.
Ia mendukung penuh langkah Polri, namun mengingatkan agar penyidikan tak berhenti pada pelaksana tingkat bawah saja. "Jangan sampai hanya kacung yang diadili, sementara arsitek kejahatan dan penerima keuntungan terbesarnya lolos bersih," desaknya.
Menurut Yudi, dampak nyata dari korupsi ini adalah kerugian ganda: negara kehilangan triliunan rupiah, sementara rakyat menanggung "biaya sosial" yang mahal—mulai dari aktivitas harian terhenti, produksi usaha terganggu, hingga risiko keamanan dan kesehatan yang terancam saat listrik padam total.
Untuk membongkar jaringan secara tuntas, Yudi mendesak penyidik memperkuat kerja sama dengan BPK dan PPATK guna melacak jejak keuangan secara teliti lewat pendekatan "ikuti aliran uang" (follow the money). Langkah ini krusial untuk memetakan siapa saja yang menikmati keuntungan haram, sekaligus memburu aset-aset pelaku demi pemulihan kerugian negara.
"Kasus ini harus diungkap sampai ke akar-akarnya. Ini sekaligus menjadi jawaban tegas atas keheranan publik: mengapa sistem kelistrikan nasional bisa begitu rapuh dan lumpuh dalam waktu yang bersamaan," pungkasnya seraya berharap seluruh saksi berani bersaksi tanpa rasa takut.